Baru seminggu habis dari Mt. Papandayan, masih terasa sedikit kepenatan karena kondisi kaki yang memang belum pulih, sambil cerita-cerita dan melihat foto dengan teman sekantor timbul keinginan beberapa rekan yang sudahΒ  lama punya keinginan terpendam untuk mendaki akhirnya kembali menguat, kuat ! Seperti habis minum obat, tapi bukan obat kuat :p

Cerita punya cerita, Mt. Gede menjadi pilihan, dengan pertimbangan belum ada dari kami yang pernah kesana dan melihat review dari rekan sependakian bahwa Mt. Gede punya jalur yang cukup mudah dan jelas. Akhirnya kami memutuskan untuk naik Mt. Gede seminggu lagi. Karena tak satupun dari kami yang pernah kesana kami memutuskan naik dari Cibodas yang kuotanya paling besar untuk dapat naik melalui jalur tersebut.
Pembatasan jumlah pendaki (Sumber: http://booking.gedepangrango.org/booking.php);
– Cibodas 300 orang /hari
– Gn Putri 200 orang/hari
– Selabintana 100 orang/hari
Walau pada kenyataannya jumlah pendaki bisa berkalikali lipat dari jumlah tersebut.

Yaaap, persiapan saat ini cukup lama, H-7 karena biasa nya hanya minus beberapa jam baru tau mau kemana πŸ˜€
Keinginan untuk pendakian ini mulai disebar kepada rekans sekalian, yang akhirnya mengumpulkan kami bertujuh.

1. Arif Rahman Syafin (ars)
2. Gustaf Prameswara (ujo)
3. Sri Handika Utami (siri) *kedua kalinya naik gunung
4. Yulia Sulistya (jule) *pertama kali naik gunung
5. Ibnu Delli (ibn)
6. Ahmad Taufiqul Hafizh (apiz)
7. Akbar Nugraha (ak)

Ingin rasanya memberi nama kelompok ini dengan 7cm (ala film 5cm red), tapi mengingat dan menimbang ketua kelompok kami adalah ujo, maka nama kelompok kami adalah Gustala (Gustafo Pecinta Alam), nama ini sudah disetujui oleh beberapa anggota walau ketua masih tidak setuju :p

Berbagai persiapan sudah mulai dibagi-bagi apa dan apa yang perlu dibawa. Setiap orang kebagian mulai dari bahan makanan hingga peralatan yang sedianya dibutuhkan. Mana yang kurang-kurang pun mulai dicari, nesting dan tenda serta banyak lagi lainnya, alhamdulillah dapat terpenuhi sebelum hari H. Niatpun semakin mantap, tak sabar rasanya menuggu hari Jumat ini datang πŸ˜€
Sementara itu, barang kawan-kawan sudah mulai ditaruh dikosan H-2 agar bisa pulang kerja langsung ke kumpul di satu titik dan cussss . … H-1 kami berempat (jule, ars, apiz dan ujo) mulai menata barang di basecamp kami sehingga semua beratnya bisa terbagi dengan baik.

Jumat yang ditunggu pun datang, lama rasanya sore menjelang jam pulang … memang kalau ditunggu jadi berasa lama ya -,-
Bel berbunyi, kamipun segera bergegas dan kembali sesama mengingatkan agar tiada yang terlupakan untuk dibawa. Pukul 5 kami sudah berada di basecamp sebelum keberangkatan, kembali menata barang dan mambagi beban dalam tas kerel (carrier). Selesai itu kami berenam langsung menuju mobil dan gassss ..Β  Macet masih menghantui kami sebelum sampe kesana, untuk menghindari rasa cemas kami yang tinggi makan menjadi solusi kami :p

Makana penghilang cemas :p
Makanan penghilang cemas :p

Dan ternyata, cemas yang sudah tertutupi dengan makanan masih berlaku adanya, kami baru sampai di Cibodas pada pukul 23.00 sementara Akbar sudah disana dari jam 10 malem karena berangkat terpisah dengan kendaraan umum. -,-

Sesampainya di Cibodas kembali melakukan pengecekan barang kembali, sekaligus mengurus izin untuk naik malam di basecamp pertama, kami bergabung dengan tim lain sehingga satu kelompok kami berjumlah 14 orang.

Packing selesai lengkap dengan vespa ekxtreme
Packing selesai lengkap dengan vespa ekxtreme
Lets go !
Lets go ! Menuju puncak pake beginian men …
Semuanya selesai pack finishing
Semuanya selesai pack finishing

Kami baru mulai jalan dengan kelompok lainnya pada pukul 01.20 WIB June, 13 tak lupa didahului dengan doa selamat hingga kembali, pada pos pertama kami kembali melapor untuk pengecekan jumlah anggota dan pengecekan perlengkapan.
Setelah pengecekan selesai kami mulai melakukan pendakian, trek yang sebenarnya sudah bagus .. trek yang sudah merupakan susunan batu-batu sehingga trek menjadi cukup jelas.
Sekitar 50 menit kami sudah sampai di Telaga Biru di 1575 mdpl, konon katanya telaga biru ini airnya dapat berubah warna, ada yang bilang karena cahaya, ada yang bilang karena ganggang ditelaga tersebut, karena kami lewat pada malam hari kami tidak dapat memastikan bagaimana warna telaga biru saat itu.
Istirahat sekitar 10 menit kami melanjutkan perjalanan, kami melewati Air Terjun Cibeureum 1620 mdpl namun sayang kami tidak masuk karena dinihari kami juga tidak bisa menikmati pemandangannya. Melewati air panas akohirnya kami mencapai Rawa Denok pada pukul 3.30 WIB, dijalan kami banyak istirahat karena memang kondisi yang tidak cukup istirahat di perjalanan. Kami memutuskan untuk camp di Rawa Denok agar kondisi tidak sampai drop dan sedikit membuat api unggun serta kopi hangat pastinya πŸ˜€

Pukul 7 pagi kami beberes tenda sembari menghangatkan badan dengan Kopi Kawa dan melanjutkan perjalanan selanjutnya menuju Kampung Badak 2400 mdpl untuk camp selanjutnya.

Proses tutup tenda camp pertama
Proses tutup tenda camp pertama
Poses cantik dan ganteng dulu sebelum cau :D
Pose cantik dan ganteng dulu sebelum cau πŸ˜€

Sebelum mencapai Kampung Badak banyak lumayan banyak pos yang kami lewati, Batu Kukus, Pondok Pemandangan dan Air Panas 2100 mdpl.
Dalam perjalanan hal yang saya takutkan pun terjadi, cidera dengkul yang belum sembuh kembali sakit.

Mulai ngilu ...  ;(
Mulai ngilu … ;(

Berat rasanya untuk melanjutkan perjalanan, namun janji kepada teman-teman untuk naik bersama dan keinginan yang kuat mencapai puncak jauh lebih kuat dari rasa sakit pada dengkul ini.
Apalagi dengan ad asesi foto sepanjang jalan πŸ˜€

Photo session sepanjang jalan
Photo session sepanjang jalan
Harus dipaksa biar bangun :p
Harus dipaksa biar bangun :p
Kaki sudah tak tertahankan :'(
Kaki sudah tak tertahankan πŸ˜₯
Istirahat di pohon besar
Istirahat di pohon besar
Climbing terjal dengan sudut elevasi 75'
Climbing terjal dengan sudut elevasi 75′
Ngedaki sambil mimik
Ngedaki sambil mimik
Climber sejati :p
Climber sejati :p
Sosok pasangan yang tak sadar kami perhatikan
Sosok pasangan yang tak sadar kami perhatikan
Harus mulai dibalut dengan yang panas :'(
Harus mulai dibalut dengan yang panas πŸ˜₯
Perebutan air minum, hausssssss
Perebutan air minum, hausssssss

Dengan modal semangat dan tekad yang kuat kami mencapai Air Panas, pada jalur air panas ini cukup menantang dan ekstrim, hanya berkisar sekitar 15 meter, namun jalan batuan selebar 1 meter, dengan aliran air panas, sisi kiri tebing dan sisi kanan jurang yang hanya dibatasi tali seadanya. Batuan yang dilewati cukup licin, disini teman kita Jule terpeleset, mengagetkan hampir semua orang yang sedang melewati jalur tersebut, karena kalo lepas langsung masuk jurang batu. Syukur alhamdulillah jule dpaat berpegangan dan melanjutkan perjalan dengan baik.

Pose sebelum jatoh
Pose sebelum jatoh
Jalur air panas
Jalur air panas

Di daerah air panas terdapat shelter / tempat istirahat bagi para pendaki yang ingin bersih dengan air panas yangΒ  mengalir cukup deras, disini pun kami menyempatkan untuk Shalat dan ngopi2 untuk memanaskan badan berhubung sudah jam 12 tengah hari, kami berencana ingin makan namun sepertinya lokasi cukup kecil dan padat dengan pendaki sehingga kami memutuskan untuk makan nanti sesampainya di Kampung Badak saja.

Istrihat di shelter air panas
Istrihat di shelter air panas
Panorama air panas
Panorama air panas
Tempat para pendaki mencuci muka melepas kepenatan
Tempat para pendaki mencuci muka melepas kepenatan

Perjalanan kembali dilanjutkan, kami melewati Kampung Batu yang lumayan banyak dijadikan tempat camp bagi pendaki karena lokasi yang cukup luas dan datar, serta dekat dengan Air Terjun Weuleuh, dengan segala kekurangan kami akhirnya kami mencapai Kampung Badak 2400 mdpl pada pukul 15.30 WIB yang jalurnya bebatuan semua sepanjang perjalanan, sangat merasa jalur yang dibuat menjadi bebatuan cukup menyakitkan dengan daripada jalur tanah biasa(pendapat pribadi). Disini kami mulai mencari lokasi mendirikan tenda, lumayan banyak pendaki yang sudah mendirikan tenda, setelah pencarian oleh apiz dan ak akhirnya kami mendapat lokasi tenda yang cukup lapang dan datar serta dekat dengan mata air. Alhamdulillah..

Disini saya mengangkat diri sendiri sebagai Koki hidangan masakan pertama, bukannya tak mau membantu memasang tenda, namun dengan kondisi kaki yang sudah nyot2an terasa lebih baik membantu memasak dan mengeluarkan ilmu masak yang tak seberapa ini, :p

Koki yang mengangkat dirinya sendiri
Koki yang mengangkat dirinya sendiri

Hidangan teri, kornet(pertama kali masak kornet), ikan kaleng dan telur kocok serta sayuran yang dicampur mie pun selesai dimasak.

Hasil masakan yang seadanya
Hasil masakan yang seadanya

Nasi 2 nesting full pun juga sudah terhidang, tidak buruk rasanya, karena habis dimakan semua. Apakah memang karena rasanya yang “enak” atau karena lapar hanya Tuhan dan mereka masing-masing yang tau, tapi saya tetap berpikiran masakan yang enak :p

Pemasangan tenda di Kampung Badak
Pemasangan tenda di Kampung Badak
Tenda selesai Jule langsung masuk
Tenda selesai Jule langsung masuk

Selesai makan bersama kami pun mulai menata rencana kembali sementara apiz memasak puding untuk naik ke puncak, dari hasil diskusi diputuskan akan naik ke puncak pada pukul 1 pagi, rencanapun deal dan setelah maghrib kami mulai masuk ke tenda, ingin pada pukul 9 membuat api unggun dan kopi, tapi apa daya dingin nya gunung membuat kami lebih ingin didalam tenda saja -,,-.
Pukul 12 lewat alarm mulai berbunyi, persiapan apa yang akan dibawa dan bikin kopi panas ternyata menghabiskan waktu hingga pukul 2 dinihari, kami baru berangkat ke puncak pada pukul 2 pagi June, 14.
Kami hanya berangkat berlima karena siri sakit, dan ujo menemani di tenda, namun kami sampaikan jika bisa naik lebih baik naik, toh jika badan bergerak dan panas akan jauh jadi lebih baik.

Sepertinya belum banyak yang naik pada jam ini, hingga setengah perjalanan kami belum bertemu satu orangpun, hingga kamu bertemu persimpangan jalan kiri alternatf dan kanan jalur biasa, kami ambil jalur biasa yang ternyata adalah Jalur Tanjakan Setan yang fenomenal itu, dengan peralatan pencahayaan yang seadanya tampak sangat jauh tanjakan setan ini dan elevasi sekitar 80′, curam sekali.
Sempat terpikir untuk kembali ke jalur yang alternatif, namun penasaran akan rasa tantangan adrenalin dalam diri kami lebih kuat daripada harus balik, kami putuskan untuk naik dengan cahaya seadanya. Tak lupa kami buat video singkat saat pendakian, tak cukup baik gambarnya karena diambil dengan menggunakan handphone sementara tangan satunya memegang tali agar tidak jatuh.
Dengan formasi akbar diidepan, ibn, jule, ars dan apiz kami naik di tanjakan setan ini. Yang sudah naik duluan membantu teman selanjutnya untuk mengarahkan karena cahaya yang minim. Akhirnya kami berlima bisa sampai dan melewati tanjakan setan ini.

Setelah tanjakan setan ini,, dilanjutkan dengan jalan biasa, tidak banyak batu … lebih banyak pepohonan kiri kanan yang menjadi trek favorit(apalagi dalam kondisi dengkul sakit) saya karena bisa berpegangan kiri dan kanan sehingga sidengkul tak terlalu berat bebannya. Hehee
Saat sudah mencapai daerah puncak, sekitar 2800 mdpl dilanjutkan dengan trek batu berpasir hingga mencapai puncak tertingginya di 2958 mdpl. Sepanjang jalan dibagian puncak ini dibatas dengan kabel besar untuk membatas pendaki dengan jurang pada sisinya, namun sangat mudah untuk dilewati jika tetap ada pendaki yang nekad untuk main kearah jurang ini.

Akbar on pose
Akbar on pose
Cool, ala pilem pula
Cool, ala pilem pula
Pose cape
Pose cape
Gunung dibawah tanganmu :D
Gunung dibawah tanganmu πŸ˜€
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :')
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :’)
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :')
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :’)
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :')
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan :’)
Padiah gayanya
Padiah gayanya
Minus 1
Minus 1
No mention
No mention
No mention
No mention
Sahabat sekelas selama SMA
Sahabat sekelas selama SMA
No mention
No mention
Pose dingiiin bareng :D
Pose dingiiin bareng πŸ˜€

Dari puncak gunugn gede kita bisa melihat puncak gunung Salak, Pangrango yang bersebelahan dengan gunung Gede,Β kota Cianjur dan Sukabumi serta banyak gunung lainnya yang tak saya ketahui.

Sesampainya di puncak tertinggi Gede 2968 mdpl kami segera berburu sunrise yang kebetulan sedikit ditutupi awan, namun masih tetap sangat indah. πŸ™‚
Tak lama selang kami berfoto dengan sunrise, ujo dan siri akhirnya datang menyusul dan bergabung dengan kami saat berfoto ria.

Background Gunung Salak
Background Gunung Salak
Ala pilem-pilem
Ala pilem-pilem
Siri on pose
Siri on pose
Ujo on pose
Ujo on pose
Lengkap, b7 :D
Lengkap, b7 πŸ˜€

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Bias matahari pagi
Bias matahari pagi

Jpeg

Usai berfoto ria kami menyempatkan makan puding yang sudah dibuat dari semalam, memang ya apapun kalau di gunung itu enak rasanya πŸ˜€
Sungguh nikmat puding ini saat di puncak πŸ˜€

Β Selesai menikmati indah puncak gunung gede kami ingin rasanya ke Surya Kencana, menikmati taman bunga edelweis, namun apa daya mengingat perkiraan waktu yang ada kami tidak sempat untuk mengunjungi Surya Kencana, karena untuk turun dengan akan butuh waktu yang lama untuk dapat kembali berkumpul dipos bawah.
Mungkin lain kali kesini, kami baru akan mengunjungi Surya Kencana πŸ™‚
Tepat jam 07.00 kami mulai turun, 3 orang pertama turun lebih dulu apiz, siri, ibn dan ujo agar bisa sedikit memasak terlebih dahulu sementara yang lain membongkar tenda, Akbar turun pelan untuk memastikan saya dan jule bisa turun dengan selamat maklum kondisi kami sama-sama tidak fit (cidera).

Turun dengan sangat pelan
Turun dengan sangat pelan
Naik tanjakan Setan
Naik tanjakan Setan
Tanjakan Setan
Tanjakan Setan
LARANGAN
LARANGAN

Saat kami sampai di Kampung Badak, 1 tendak sudah ditutup dan beberapa masakan juga sudah selesa dimasak, enak ternyata kalo naiknya rame2 πŸ˜€
Tak lama saya turun satu lagi tenda ditutup dan kami mulai packing barang2, setelah itu makan bersama dengan menu Dadar Tuna, Sayur, Teri(wajib), Ikan kaleng dan kornet. Hmmmm, wenak tenan .. πŸ˜€

Pose lapaar
Pose lapaar
Jule lapar dan lesu
Jule lapar dan lesu
Bahan makanan masih terkapar
Bahan makanan masih terkapar

Energi sudah full, dan jam sudah menunjuk pukul 11.30, kami pun bergegas turun, saat turun posisi kami sudah terpisah, apiz duluan didepan, akbar, ars, ibn , jule, ujo dan siri. Setengah perjalan awal cukup menyakitkan buat dengkul saya karena cukup curam , kalau dituruni dengan pelan akan semakin sakit, hingga berlari kebawah jadi satu2nya jalan. Namun apadaya, setengah perjalanan, dengkul kembali berulah, kali ini tidak bisa ditahan, saya berhenti dan tiduran ditepi jalan, namun saat teman belakang lewat malah tidak ngeh kalau saya tertidur ditepi jalan, kebetulan mereka istirahat beberapa puluh meter setelah posisi saya tidur, sedikit perbincangan ternyata jule melihat saya tidur, namun dibiarkan saja -,-
Akhirnya siri kembali dan membangunkan saya, dan perjalanan kembali dilanjutkan. Namun kali jauh labih berat buat saya, kaki saya tertekuk selama istirahat tadi, dan hasilnya adalah sangat sakit.
Tapi ya tetap harus jalan, pemaksaan kali ini terhadap sikaki cukup susah seringkali saya terduduk karena menahan sakit, tapi apa daya teman-teman sudah pada di depan semua. Hikzz ..
Kami berkumpul kembali di jembatan Rawa Denok setelah Akbar, Apiz dan Ibn sempat tidur disana. Setelah yakin kami bertujuh sudah lengkap perjalanan kembali dilanjutkan.

Terlalu lama menunggu
Terlalu lama menunggu
Teparrrrr
Teparrrrr
Bisa nyantai duluu
Bisa nyantai duluu

Kali ini saya kembali di susunan terkahir, saya baru sampai di pos terakhir setelah mereka bisa makan dan bersantai di pos tsb. Cukup lama selisih waktu saya dengan mereka dari Rawa Denok ke pos terkahir. Maklum, dengkul (lagi).
Tak lama saya sampai, laporan turun pun dibuat dan kami kembali lanjut ke parkiran untuk segera bebersih , Maghriban dan langsung pulang. Kali ini pulang dengan mobil hanya 4 orang ars, ujo, siri dan jule, sementara ibn, apiz dan akbar pulang dengan kendaraan umum mengingat size mobil yang cukup kecil dan jarak di jakarta cukup berjauhan.
Namun kami sampai di Jakarta sama2 pada pukul 12 malam, syukurlah, Aman sampai ditujuan.
At Last, Alhamdulillah πŸ™‚

Mt. Gede Gallery,

This slideshow requires JavaScript.

Next trip, kami menunggumu πŸ˜€

Advertisements