Senin kemarin ini saya latihan basket dengan teman kantor untuk persiapan acara 17an yang setiap tahunnya diadakan dengan berbagai acara termasuk salah satu olahraga basket ini. Kami datang ke kantor lebih awal dari biasanya, pukul 6 pagi yang biasanya jadwal latihannya sore after office. Ini merupakan latihan pertama saya setelah hampir 3 bulan berhubung cedera lutut yang saya alami beberapa waktu lalu. Pada awalnya latihan berjalan lancar, saya banyak bertemu dengan teman-teman baru saat latihan, namun saat sudah mulai bermain salah seorang teman yang baru saya temui mungkin menganggap ini pertandingan “serius” hingga bermain cukup keras, saya kena dorong saat melompat yang membuat saya harus mendarat dengan kedua tangan saya, posisi jatuh saya sangat tidak baik, namun lebih baik daripada pantat saya yang mendarat duluan tentu dengan risiko yang jauh lebih besar.
Sesaat setelah jatuh saya langsung keluar lapangan, saya mencoba menggerakkan pergelangan tangan saya merasakan apakah ada yang retak atau patah, saat itu saya merasa sangat sakit, namun tidak ada indikasi tulang patah yang ditandai dengan rasa perih didalam daging. Setelah beristirahat beberapa waktu saya kembali main, namun dengan kondisi yang masih cukup sakit. Selesai bermain saya kembali istirahat sejenak, namun ternyata kondisi kali ini lebih buruk, saya bahkan kesusahan untuk mengangkat hanya tas sepatu! Ini mulai terasa tidak beres, sayapun bergegas bersih-bersih sebelum ini lebih sakit dan menyusahkan saat mandi. Benar adanya, setelah mandi, sakitnya sudah mulai parah, ini saya coba antisipasi dengan mengompres dengan batu es sebelum bengkak. Saat sedang komprespun saya ketemu dengan Pak Usman yang “bisa” urut, sayapun mempercayakan kepada Pak Usman untuk dapat mengurangi sakit itu

Setelah diurut dan dikasih balsem dan thrombophop gel
Setelah diurut dan dikasih balsem dan thrombophop gel

Setelah diurut tangan saya merasa sedikit lebih baik, saya cukup lega setidaknya hingga siang. Saat siang saya merasa sangat kesakitan, jauh lebih sakit dari paginya. Karena kondisi sakit tak tertahankan, saya memutuskan untuk periksa ke Rumah Sakit diantar ujo dan siri.
Dalam pikiran saya apakah benar saya perlu rontgen atau tidak, apakah ini cuma keseleo aja? Karena awalnya saya tidak merasakan perih seperti tanda retak/ patah pada umumnya, namun entah kenapa siangnya tiba-tiba menjadi sangat sakit. Richie salah seorang teman saya dikantor pernah mengalami hal yang sama dan ternyata terjadi fraktur/ retak di pergelangan tangannya setelah dirontgen. Apakah perlu di rontgen atau tidak, tentunya dokter lebih tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Rumah sakit pertama yang saya kunjungi adalah Rumah Sakit Cipto, salah satu rumah sakit negeri di Jakarta. Namun karena tidak menggunakan asuransi kesehatan apapun, kami diminta untuk cek biaya dulu sebelum ditindak, dalam pikiran saya pribadi tentunya dengan kondisi Rumah Sakit negeri tidak akan terlalu mahal, namun ternyata nilainya cukup besar, hampir menyentuh angka 1000k belum termasuk obat untuk rontgen dan dokter yang akan membaca hasil rontgen. Saya memutuskan untuk mencari rumah sakit lain saja karena menurut saya harganya tidak wajar, memang kesehatan itu mahal namun menurut saya harganya tidak masuk akal untuk rumah sakit negeri yang pelayanannya tidak sebaik di swasta. Kenapa saya pikir begitu, karena 2 minggu sebelumnya malah saat siri berobat ke salah satu rumah sakit Swasta, RS Bunda biayanya lebih murah, mungkin karena beda penyakit kali ya?
Rumah sakit kedua yang saya kunjungi adalah RS yang saya kunjungi sehari sebelumnya, RS Budi Kemoeliaan namun bagian Radiologi tidak standby disana, kami dirujuk kerumah sakit Pelni. Namun sebelum kesana kami makan dulu, kami makan Dibao Untuang yang merupakan salah satu rumah makan favorit kami di Ibukota. Walau sakit, makan enak  tetap jalan ya .. 😀
Rumah sakit ketiga yang saya kunjungi adalah RS Pelni, masih rumah sakit negeri. Disini memang antriannya cukup panjang, namun mereka tidak setidaknya masih melayani dengan baik.
Disini tanpa saya diberitahu tanpa asuransi apapun saya akan dikenakan biaya maksimal 500k sudah termasuk obat, disini saya menyanggupi berhubung waktu yang sudah mau tengah malam juga. Dirumah sakit ini saya dilayani sangat baik walau banyak pasien yang antri.
Setelah diperiksa, saya disarankan untuk rontgen yang berlangsung tak cukup lama. Sebelum pulang saya dipasangkan arm sling untuk mengurangi nyeri yang dirasakan saat digerakkan. Arm sling merupakan penopang siku yang diikatkan keleher.

Hasil rontgen
Hasil rontgen

Alhamdulillah hasil rontgennya baik, tidak ada fraktur/ retak. Dengan obat pereda nyeri dan bengkak insyallah akan kembali sembuh. Thanks Dok :*

Kesimpulannya apa?
Saat terjadi sesuatu dengan tulang anda, ada baiknya dirontgen. Pertimbangannya adalah jika ada retak ditulang. Mungkin retaknya kecil, namun bisa menggangu fungsi jaringan lainnya seperti otot sekitar. Bisa saja anda memutuskan melakukan urut seperti yang saya lakukan sebelum ke dokter, namun pastikan dulu gejala yang anda rasakan tidak ada indikasi retak/ patah yang ditandai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri yang terasa saat patah/ retak adalah seperti rasa menusuk-nusuk didalam daging.
Walau saya tidak merasakan rasa tersebut saya tetap menyetujui dirontgen dengan pertimbangan jika terjadinya fraktur kecil namun berefek rentan karena pada posisi pergelangan tangan.
Jadi, jika anda mengalami hal yang sama ada baiknya kenali dulu gejalanya sebelum melakukan tindakan, tidak usah terburu-buru. Dan satu lagi, segeralah urus asuransi anda! Apapun itu, sangat dibutuhkan saat mendesak mengingat kesehatan itu “mahal”, apalagi di Ibukota ini.

Salam sehat!

Advertisements