Mari naik … Marilah naiiiik … .
Sekarang jugaaaa …. ah, sangat menyenangkan lagu ini dikaki gunung ya …

Hiiiiii… . C I R E M A I !!!

Sehari sebelum keberangkatan nama ini menjadi bahan pertanyaan bagi setiap insan yang ditemui, sekiranya memenuhi kriteria pertanyaan, pertanyaan pun akan diluncurkan.

Ciremai, sebuah gunung di daerah Kuningan yang mempunyai ketinggian 3078mdpl! Cukup terjal dan mempunya beberapa jalur alternatif pendakian sbb;

Linggarjati (Kami melewti jalur ini)
Jalur ini terkenal dengan sebagai jalur “terbaik” bagi pendaki, lebih menantang.
Linggasana, desa sebelah Linggarjati.
Apuy, jalur landai
Palutungan, jalur landai

Untuk  dapat menaiki gunung ini tentu kita sebagai pendaki yang baik mengurus simaksi terlebih dahulu, ada sedikit keluhan bagi para pendaki disini akhir-akhir ini yaitu dikarenakan biaya SIMAKSI yang naik 100% dari beberapa bulan yang lalu, hal ini pastinya  membuat jumlah pendaki sedikit berkurang. Di Linggarjati kendaraan bisa dititipkan kepada warga sekitar, bisa juga diparkiran yang sudah disediakan, harga parkir yang ditawarkan 25k permalam. Namun saran saya, lebih baik dititipkan dirumah warga karena bisa sekalian numpang mandi, bersiap dan berkemas setelah turun nanti. :p

Ok, kita mulai cerita pendakian kita.

Kami berangkat dari Jakarta pukul 12 malam dengan niat untuk naik pada pagi hari. Menurut perkiraan kami bisa sampai diKuningan pada pukul 04.00AM. Benar adanya, kami sampai pada pukul tersebut. Kami menyempatkan istirahat di sebuah Mushalla di jalur pendakian Linggasana. Namun karena orang yang jaga terlalu lama, akhirnya kami pindah naik jalur Linggar Jati. Untuk kantor pengurusan SIMAKSI hanya buka 07.00AM hingga 11.ooPM, tidak seperti gunung lainnya disekitar Jakarta yang hampir 24jam!

Alih2 mengurus persyaratan naik yang cukup mendetail, bahkan hingga bawaan yang akan menghasilkan sampahpun harus didetailkan satu persatu dan akan dicek kembali saat turunlapor dipos. Ini pertama kali sedetail ini untuk pelaporan naik gunung, tapi ada bagusnya juga sii.

Akhirnya kami berangkat nanjak pada pukul 10.00AM, hingga mencapai Ashar kami baru mencapai ketinggian sekitar 2000mdpl. Tak sabar hati ini melihat puncak Ciremai, tapi seribu tapi … apalah daya tubuh manusia ini terkena hujan yang sangat deras diatas gunung, sangat mendadak hingga membuat semua gear kami basah. Dengan kondisi trek berat, dan semua gear sudah basah kami memutuskan untuk turun kembali, keputusan yang cukup berat, namun apa daya daripada mengambil risiko yang cukup besar.
Akhirnya kami kembali turun dan memutuskan untuk camp disalah satu posko pendakian sebelum turun, untuk sekedar menjemur gear yang sudah terasa berat terkena hujan sebelumnya. Bermalam disalah satu pos pendakian ini cukup menegangkan ternyata, pada malam hari sembari menunggu mata terkantuk kami sempatkan menikmati kopi panas, dan hal anehpun mulai terjadi .. kami tidak bisa berhenti tertawa!!! Satu kata saja terlontar, kami langsung tertawa dan hampir tiada henti. Apakah ini memamng sudah mulai kedinginan atau dikarenakan ada yang “menggelitik”, siapa yang tahu 😀
Saat kami mulai menyadari “ketawa” kami sudah tidak wajar kami memutuskan untuk istirahat, dan ternyata benar adanya .. penghuni disana agak sedikit jahil, pasal nya salah satu teman kami kena “interogasi” pada malamnya, namun syukur ga berlanjut ya isengnya, heuu .. Dari “Interogator”, kami juga mendapatkan informasi bahwa dibawah pohon besar tempat kami camp merupakan tempat disegelnya salah satu penyihir pada jaman bahelak, ahhh … untung kami baru diinformasikan siangnya sehingga malamnya tetap bisa tidur ya .. Heheu ..

Malampun berlalu, paginya kami berkemas dan segera turun kembali. Tak ada yang kami sesali dari pendakian yang tak mencapai puncak ini, karena pendakian itu masalah pencapaian puncak, tapi pendakiannya itu sendiri. Bukan masalah menaklukan alamnya, tapi menaklukan ego.
Semoga next trip kami bisa mencapai puncak ya, amin .. Hihi 😀

#ciremai
#cirebon
#3078mdpl – with Hengky, Gustaf, and Sri Handika

View on Path

Advertisements